Yang Seharusnya Nyata

Delusiku sering mengatakan banyak hal yang membuat diri sendiri ragu. Aku merasa banyak hal yang bukan diriku sendiri terlepas keluar dan meraba setiap sudut untuk mengambil alih diri. Berbagai perasaan mulai berkecamuk, membuat kepala tak bisa berpikir jernih.

 

Bahkan dalam delusiku, saat aku membayangkan sesuatu yang indah, semuanya terasa menyakitkan, karena aku tahu semua itu tak nyata. Aku sadar aku terlalu dibutakan oleh delusi yang tak nyata ini. Saat aku kembali sadar, aku merasa hampa dan sedikit tak bisa menerima pahitnya kenyataan yang ada.

 

Delusi itu menyakitkan. Takkan bisa menghilang sekalipun kucoba untuk tidak menghiraukannya. Takkan bisa padam meskipun kucoba menguburnya. Akan selalu ada meski kucoba untuk berpaling darinya. Namun, ada satu yang indah dari sekian banyak delusiku yang menyakitkan. Yaitu kamu.

 

Bila delusiku itu kamu, biarkan aku tetap berada di dalamnya, memelukmu, menyayangimu, dan terus menjagamu selamanya, meskipun kamu hanya bagian tak nyata dari diriku. Biarkan aku merasakannya, walaupun aku harus tersiksa, asalkan kamu jadi bagian di dalamnya.


Antara Pilihan dan Keberuntungan

22 tahun 7 bulan.

Usia dimana pada masa ini kebanyakan manusia sudah mulai memasuki masa-masa persimpangan. Banyak pilihan membingungkan yang harus diseleksi dan diambil. Pada usia ini pilihan-pilihan yang kita ambil akan menentukan jalan hidup kita selanjutnya (walaupun di setiap tahap kehidupan pasti kita akan selalu dihadapkan pada pilihan).

Sebuah kebingungan yang sedang aku rasakan saat ini (atau bisa dibilang penyesalan (?)). Begitu dihadapkan pada tantangan saat ini, banyak hal yang tiba-tiba aku sesali di masa lalu dan mungkin banyak yang terlambat diperbaiki. “Kenapa dulu tidak begini, kenapa dulu tidak begitu, harusnya aku lebih begini, harusnya aku berani begini”. Tapi toh, tidak ada gunanya disesali, hidup memaksa kita bergerak maju, bukan diminta mundur untuk mengulang yang telah lalu.

Aku menyadari, tanpa bantuan banyak orang dan semua “keajaiban” serta keberuntungan yang datang padaku hingga saat ini, aku tidak yakin bisa sampai pada titik ini. Aku sendiri sebenarnya tidak yakin dengan semua usaha dan keberhasilan yang aku capai sampai saat ini. Aku hanya menganggap semua hal baik yang terjadi padaku karena keberuntungan yang aku dapat dan berkah Tuhan yang masih mau membantu hamba-Nya yang penuh dosa ini. Aku bersyukur untuk semua itu.

Semakin dewasa, semakin menyadari bahwa hal-hal kecil pun patut disyukuri. Merasa puas bahkan terhadap keberhasilan melewati hari ini dan bisa melihat hari esok adalah anugrah yang luar biasa. Walaupun aku sendiri sebenarnya sangat berharap hidupku sedikit mudah seperti orang-orang yang ada di sekitarku. Tapi ketika melihat beberapa yang lain, aku jadi sadar bahwa hidupku tidak terlalu buruk. Toh, almarhum Gusdur pernah berkata “jangan pernah menjadikan nasib atau takdir orang lain menjadi bahan bersyukur kita”. Ada benarnya juga, karena dengan mensyukuri yang kita miliki, rasa iri terhadap orang lain juga akan berkurang dengan sendirinya (walaupun aku sendiri belum mampu menghilangkan sifat satu ini, dan mungkin tidak akan bisa).

Dari tulisan ini, aku juga ingin melihat seberapa jauh keberuntungan dan berkah Tuhan mampu membawaku. Berapa banyak lagi pilihan yang harus aku ambil dan aku putuskan ke depannya. Bukan berarti aku pesimis, hanya saja target yang sering aku buat terkadang sedikit berbelok dan diubah dengan cara yang tidak terduga. Aku berharap tidak banyak menyesali pilihan-pilihan yang aku ambil selanjutnya ke depan. Karena hidup bukan hanya tentang pilihan, bukan?

Rasa Berbagi

Banyak keinginan dan harapan yang ingin aku lakukan

Berbagai hal yang ingin aku rasakan selama aku ada

Ratusan hal yang membuatku sangat penasaran dan ingin mencoba

Menancapkan jejak langkahku dimanapun aku bisa

 

Aku mencoba merasakan berbagai hal yang membuatku penasaran

Dan mencoba berbagi hal-hal yang telah aku coba

Membagikan rasa yang sama, kepada mereka yang kurasa ada bersama

Menetap tak peduli apapun situasinya

 

Mencari mereka yang mau berbagi itu tak mudah

Duduk bersama dan mendengarkan cerita-cerita kita

Merasakan emosi yang kita alami

Mengajari dan memberi arti pada jejak-jejak yang aku tinggalkan

 

Beruntunglah kalian yang telah menemukan mereka yang mau berbagi

Bersyukurlah bila orang itu adalah yang selama ini kalian cari

Nikmatilah semua rasa itu bersama, hingga tak berdaya

Hingga jejak kalian tersisa sedikit saja, namun berarti berharga untuk semua

Tentang Rasa Percaya

Aku melihat rasa percaya itu adalah sebuah hukuman..

Hukuman untuk membuat kita lebih waspada terhadap mereka di sekitar kita

Bukan hal yang salah untuk percaya pada seseorang atau sesuatu

Bukan hal yang salah juga untuk tidak percaya pada sesuatu atau satu orang pun

Itu hakmu, hal yang bebas kamu anut dan yakini

 

Pengalaman dalam hidup akan semakin mempengaruhi rasa percayamu

Semakin pahit pengalamanmu, semakin hilang rasa percayamu

Tapi bukan berarti pengalaman baikmu dalam kepercayaan bisa membebaskanmu dari sakitnya percaya

Akan ada saat kau harus terluka, karena sakitnya percaya, dan tingginya harapan pada kepercayaan tersebut

Mengertilah dirimu sendiri, sayangi dirimu sendiri, jangan biarkan mereka merenggut kebahagiaanmu sendiri.

 

Kita tidak akan bisa selalu menyalahkan orang lain karena rasa percaya kita pada mereka.

Salahkanlah dirimu sendiri, kenapa kau percaya mereka?

Apa yang membuatmu bisa percaya padanya? Seberapa yakinkah kamu mempercayainya?

Janganlah pernah menggantungkan harapan terlalu tinggi pada manusia, suatu saat dia akan bisa membuatmu terluka.

Yakinilah jalanmu sendiri, pilihlah apa yang kamu tetapkan sebelumnya, jadilah dirimu sendiri.

 

Belajarlah dari pengalaman, dia adalah guru terbaik.

Nikmati pahit, manis, asam, dan gurihnya pengalaman tentang rasa percaya

Kau akan mendapat pelajaran dari semua itu.

Sekali lagi, sayangilah dirimu sendiri, buatlah dirimu sendiri bahagia lebih dulu, baru orang lain.

Pilihlah mereka yang benar-benar bisa kamu percaya, meskipun dalam hal kecil

Yakinkanlah diri untuk mempercayai seseorang, apakah dia benar-benar pantas dipercaya?