22 tahun 7 bulan.
Usia dimana pada
masa ini kebanyakan manusia sudah mulai memasuki masa-masa persimpangan. Banyak
pilihan membingungkan yang harus diseleksi dan diambil. Pada usia ini pilihan-pilihan
yang kita ambil akan menentukan jalan hidup kita selanjutnya (walaupun di
setiap tahap kehidupan pasti kita akan selalu dihadapkan pada pilihan).
Sebuah kebingungan
yang sedang aku rasakan saat ini (atau bisa dibilang penyesalan (?)). Begitu dihadapkan
pada tantangan saat ini, banyak hal yang tiba-tiba aku sesali di masa lalu dan
mungkin banyak yang terlambat diperbaiki. “Kenapa dulu tidak begini, kenapa
dulu tidak begitu, harusnya aku lebih begini, harusnya aku berani begini”. Tapi
toh, tidak ada gunanya disesali, hidup memaksa kita bergerak maju, bukan
diminta mundur untuk mengulang yang telah lalu.
Aku menyadari, tanpa bantuan
banyak orang dan semua “keajaiban” serta keberuntungan yang datang padaku
hingga saat ini, aku tidak yakin bisa sampai pada titik ini. Aku sendiri
sebenarnya tidak yakin dengan semua usaha dan keberhasilan yang aku capai sampai saat ini. Aku
hanya menganggap semua hal baik yang terjadi padaku karena keberuntungan yang
aku dapat dan berkah Tuhan yang masih mau membantu hamba-Nya yang penuh dosa
ini. Aku bersyukur untuk semua itu.
Semakin dewasa,
semakin menyadari bahwa hal-hal kecil pun patut disyukuri. Merasa puas bahkan
terhadap keberhasilan melewati hari ini dan bisa melihat hari esok adalah
anugrah yang luar biasa. Walaupun aku sendiri sebenarnya sangat berharap
hidupku sedikit mudah seperti orang-orang yang ada di sekitarku. Tapi ketika
melihat beberapa yang lain, aku jadi sadar bahwa hidupku tidak terlalu buruk.
Toh, almarhum Gusdur pernah berkata “jangan pernah menjadikan nasib atau takdir
orang lain menjadi bahan bersyukur kita”. Ada benarnya juga, karena dengan mensyukuri
yang kita miliki, rasa iri terhadap orang lain juga akan berkurang dengan
sendirinya (walaupun aku sendiri belum mampu menghilangkan sifat satu ini, dan
mungkin tidak akan bisa).
Dari tulisan
ini, aku juga ingin melihat seberapa jauh keberuntungan dan berkah Tuhan mampu
membawaku. Berapa banyak lagi pilihan yang harus aku ambil dan aku putuskan ke depannya. Bukan berarti aku pesimis, hanya saja target yang sering aku buat
terkadang sedikit berbelok dan diubah dengan cara yang tidak terduga. Aku berharap tidak banyak menyesali pilihan-pilihan yang aku ambil selanjutnya ke depan. Karena hidup bukan hanya tentang pilihan, bukan?