Pandemi Covid-19 telah berdampak pada berbagai segi kehidupan, baik pada sisi ekonomi, sosial, dan keamanan bagi masyarakat di seluruh dunia.
Sejumlah
orang merasa ketakutan, bingung, cemas, dan stres dalam menghadapi pandemi ini.
Hal tersebut dikarenakan situasi ini dipenuhi dengan ketidak pastian, sehingga
banyak berpengaruh pada kondisi fisik dan mental individu. Padahal dibutuhkan
imunitas fisik dan mental yang baik untuk menjaga kondisi selama pandemi ini.
Salah satu
permasalahan mental yang sering muncul sebagai dampak dari adanya pandemi ini
adalah stres.
Secara klinis,
Selye (dalam Davidson dkk, 2004) mengatakan bahwa stres bisa dikatakan sebagai
respon alamiah dari manusia terhadap berbagai perubahan yang ada di lingkungan.
Individu diharapkan bisa beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang terjadi di
lingkungan tersebut.
Tetapi
kadang perubahan-perubahan yang ada di lingkungan menyebabkan kita merasa
cemas, takut, dan waspada berlebihan sehingga dapat mengganggu aktivitas kita
sehari-hari. terlebih di masa pandemi ini.
Dalam
kondisi pandemi, terkadang merupakan hal yang wajar bila kita merasa gelisah,
cemas, sulit tidur, pusing, atau terkadang bermimpi buruk.
Apabila
kita mampu untuk mengatasi dan beradaptasi dengan kondisi saat ini, gejala
tersebut akan menghilang seiring berjalannya waktu.
Akan
tetapi bila kondisi ini berlangsung secara terus-menerus selama kurang lebih
satu bulan dan individu tersebut tidak mampu beradaptasi, stres ini bisa
berlanjut menuju ke tahap yang lebih kronis.
Pada tahap
ini, individu mengalami kesulitan dalam melakukan aktivitas sehari-hari, baik
sosial maupun pekerjaan, sehingga mulai mempengaruhi kondisi mental.
Cara Mengatasi Stres
Lazarus
(dalam Davidson, 2004), menyatakan bahwa coping
merupakan suatu respon dari individu dalam mengatasi masalah dan menangani
stres yang dihadapi. Efek dari penanganan stres bisa berbeda tergantung pada
masing-masing individu.
Lazarus menyatakan bahwa terdapat dua cara individu dalam melakukan coping terhadap stres yang dihadapi, yaitu :
- Problem-focused coping yaitu mencakup penyelesaian masalah secara atau mencari informasi yang relevan dengan solusi. Biasanya individu pada coping jenis ini akan berupaya menghadapi masalah dengan mencari solusi yang langsung berfokus pada penyelesaian masalah.
- Emotion-focused coping merujuk pada berbagai upaya untuk mengurangi berbagai reaksi emosional negatif terhadap stres. Individu pada coping jenis ini cenderung menghindari masalah, melakukan relaksasi, atau mencari rasa nyaman dari orang lain.
Kedua coping di atas bisa menjadi pilihan bagi
individu untuk mengatasi dan meminimalisir stres akibat pandemi ini.
Apabila individu cenderung menggunakan coping jenis pertama, maka mereka bisa melakukan kegiatan seperti :
- Selalu memperbarui informasi terkait Covid-19 dari sumber yang terpercaya sehingga bisa menambah informasi dan meningkatkan kewaspadaan.
- Melakukan
perencanaan dalam bidang finansial dan kegiatan sosial sehingga lebih peka
dengan keadaan sekitar dan memiliki pengaturan keuangan yang baik selama
pandemi.
- Melakukan
rutinitas sehari-hari yang lebih positif sehingga mood lebih terjaga dengan baik.
Sedangkan bila individu cenderung menggunakan coping jenis kedua, maka hal-hal yang bisa dilakukan antara lain :
- Bercerita dengan orang-orang terdekat mengenai masalah yang dihadapi. Carilah orang terdekat yang benar-benar mau dan mengerti keadaan.
- Menjaga kebugaran tubuh dengan berolahraga.
- Melakukan hobi atau aktivitas baru yang positif untuk mengembangkan diri.
- Coba kurangi melihat berita-berita yang bisa membuat kecemasan dan stres meningkat.
Sumber :
Davidson, C. Gerald dkk. 2004.
Psikologi Abnormal : Edisi ke 9.
Jakarta : PT. Rajagrafindo Persada
https://www.merdeka.com/sehat/berikut-kiat-untuk-kelola-stres-pada-saat-masa-pandemi-covid-19.html